Kesehatan Mental

Berkebun, Sebuah Upaya Memperbaiki Mental Disorder

Berkebun, Sebuah Upaya Memperbaiki Mental Disorder

Bulan Agustus tahun ini, saya udh resmi 1 tahun berjuang dengan kondisi kesehatan mental yang terganggu. Lebih tepatnya masuk dalam kategori mood disorder. Diantara beberapa psikolog dan psikiater yang saya temui, ada salah satunya yang menyarankan untuk menggunakan aktivitas berkebun sebagai salah satu media terapi. Sebut saja Psikolog ini, Ms. B.

Mulai berkebun

Kenapa berkebun ?

Beliau bercerita dengan berkebun, kita bisa melihat sebuah proses dari pertumbuhan tanaman tersebut. Kita jadi membangun empati dengan melihat secara fisik tanaman tersebut, mereka tidak bisa berbicara, ataupun marah. Tapi mereka menunjukkan dengan secara visual, misalkan mereka kurang air atau terlalu lembab, ada hama, kurang pupuk. Dengan menunjukkan secara visual, tentu harapannya kita sebagai manusia bisa melihat sekitar dan memahami apa yang sebenarnya terjadi, apa yang kurang, dan tentunya akan mencoba belajar memahami. Kegiatan seperti penyiraman, pemupukan atau pengecekan tanaman adalah bagian dari mengelola fokus. Bagaimana kita bisa memberikan perhatian penuh terhadap mereka tanpa memikirkan pekerjaan atau hal-hal yang memberatkan, jd cukup fokus ke apa yang sedang dilakukan saat nyiram aja, ga perlu pikir macem-macem

Dalam beberapa paper yang saya baca melalui pencarian google scholar, terapi berkebun juga dikembangkan untuk membantu para tentara yang mengalami PTSD atau trauma karena perang. Selain itu juga menjadi bagian dari terapi mental illness. Tapi sekali lagi, sy bukan ahlinya untuk bidang ini, jd akan lebih bercerita tentang pengalaman saja ya.

Berkebun pun ada ilmu-nya

Berkebun secara visual terlihat mudah. Nanam dari bibit, siram, pupuk, lalu besar dan siap panen. Ya, keliatan simple dan bisa “dicuekin”. Ternyata enggak juga, setelah ditanam dalam bentuk biji, belum tentu dia bisa bertumbuh dengan baik sampai berbuah atau layak panen. Dalam beberapa kasus, justru saya lebih banyak gagalnya, misalkan harusnya udh masuk usia panen tapi sayur masih kerdil atau bisa saja mati karena saya kurang telaten nyiram. Akhirnya, mau tidak mau, saya mulai berburu artikel dan video di YouTube. Mempelajari hal-hal yang tentunya perlu untuk berkebun dan merawat mereka. Satu per satu mencoba memahami karakter sayur atau buah.

Beberapa bulan ini bergelut di kebun, mulai tiap pagi atau sore siram-siram. Atau sekedar ngelihat aja mereka tumbuh, ternyata menyenangkan. Beberapa udah mulai berbuah seperti terong, cabe rawit, cabe merah, dan juga tomat. Selain itu, kmrn juga iseng mencoba microgreen dan udah 1x panen untuk dibuat topping Indomie rebus.

Walaupun sekarang sudah tidak lagi menjalani terapi dengan Ms. B, beberapa saran beliau saya sudah terapkan. Dan memang butuh proses, tapi proses ini membawa pengelolaan mood saya menjadi lebih baik dan setidaknya frekuensi rollercoaster nya mulai berkurang, walaupun tetap didampingi obat.

Berproses adalah bagian dari bagaimana kehidupan ini bekerja, jangan terlalu fokus pada hasil. Karena hasil adalah impact dr berproses. Selamat berproses.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *