Kesehatan Mental

Mengatasi Depresi dengan Berproses

Mengatasi Depresi dengan Berproses

Berproses adalah tahapan bagaimana memahami diri sendiri, respon tubuh, dan membangun empati dengan lingkungan. Lingkungan disini bukan hanya hubungan antara manusia dengan manusia, tapi juga adalah hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Pencipta-Nya.

Agustus tahun lalu, butuh keberanian dan kepekaan terhadap apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri saya. Setelah melalui perdebatan panjang dg diri sendiri, meminta saran dari istri, dan membaca banyak referensi. Lalu saya memutuskan untuk menemui psikolog, dimana pilihan waktu itu saya mendatangi RS Akademik UGM. Tentu awalnya deg-deg-an, ke psikolog buat orang umum itu karena ada kecenderungan gila. Belum lagi, untuk beberapa hal, ada kecenderungan untuk bisa dirujuk ke psikiater. Saya pun sempat marah ketika di RS dan berdebat dengan istri untuk tidak mau bertemu, hingga akhirnya istri saya mau bersabar dan mendampingi bertemu.

Photo by Mitchell Hollander on Unsplash

Awal mula bertemu, dimulai dengan percakapan biasa. Hingga saya pun bercerita bahwa sering sekali beberapa bulan terakhir sebelum bertemu psikolog, saya ada kecenderungan dengan keinginan untuk bunuh diri. Ibu psikolog ini termasuk pendengar yang baik, beliau lebih banyak mendengarkan cerita saya, dan juga istri. Sampai kami selesai bercerita, kemudian beliau memberikan beberapa hal yang perlu saya jalani. Dimana hal pertama yang pada waktu itu langsung buat syok adalah saya harus menemui psikiater detik itu juga. Psikolog kemudian membuat rujukan, dan membuat agenda bertemu Minggu selanjutnya. Tidak lama, kami pun berpindah ruangan ke psikiater. Dari 30 menit konsultasi, dokter memberikan resep selama 2 Minggu, dan menjadwalkan pertemuan selanjutnya.

Beberapa kali, saya masih saja berperang dengan diri sendiri dan bertahan saya ga sakit, saya gpp. Tapi akhirnya, saya memutuskan untuk menebus obat tersebut, dan mengikuti saran dokter. Karena menurut saya, ini sudah menjadi kapasitas yang berpengalaman dan ahli di bidangnya. Seperti halnya dulu ketika saya mendapatkan gejala Hepatitis dan kekeh ga mw berobat, hingga akhirnya diagnosis muncul saya terkena Hepatitis A. Dan akhirnya, saya pun pasrah.

2 bulan pengobatan, intensitas keinginan bunuh diri saya benar-benar hilang. Saya tetap melakukan aktivitas seperti biasa, walaupun merasakan ada yang berbeda. Dan juga melakukan beberapa sesi konsultasi baik ke psikolog ataupun ke psikiater. Perubahan kearah yang lebih baik ini, membuat saya untuk memutuskan berjuang dan melewati seluruh proses apapun kedepannya nanti. Pada masa ini, dokter belum memberitahu diagnosis yang telah diberikan. Psikolog membantu saya dengan memberikan beberapa tes untuk mengetahui keadaan saya, sementara psikiater selalu memonitoring bagaimana dengan perasaan saya, kemunculan perasaan tidak berharga, dan keinginan bunuh diri. Juga hal-hal terkait respon tubuh, karena ada potensi efek samping yang mengganggu. Saya ingat, Beliau kemudian membuat catatan di rekam medis, dari yang awalnya depresi berat menjadi depresi ringan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *