Teknologi

Sentralisasi Informasi Kampus

Sentralisasi Informasi Kampus

Suatu hari Andika bermaksud untuk ikut remidi, mahasiswa ini kebetulan sedang pulang kampung, namun akses untuk mengetahui informasi kampus terbatas. Ditambah lagi, update informasi kampus via web pun juga jarang. Alhasil, cara untuk bisa mengetahui informasi kampus adalah dengan menghubungi langsung via telpon atau menanyakan ke rekan 1 angkatan.

Lain lagi dengan siska, yang kebetulan nyambi berkerja. Kondisi bekerja, membuatnya untuk mengambil kuliah di malam hari, sehingga akses informasi dia peroleh ketika masuk perkuliahan. Ketika musim libur datang, dia menyempatkan diri di sela-sela jam kerja untuk ke kampus.

Informasi kampus umumnya ditempelkan dalam media khusus di kampus, terpampang tulisan PAPAN PENGUMUMAN. Papan pengumuman ini juga musiman trend-nya. Paling rame jika nilai sudah terpublish, namun perkara nilai juga sudah tersedia sistem akademik (tidak di semua kampus), dimana mahasiswa dapat melihat langsung nilai yang dia peroleh.

Suatu ketika saya memunculkan ide untuk proses sentralisasi informasi melalui media social, media yang banyak diakses oleh mahasiswa. Bisa dikatakan cukup berhasil, karena mulai banyak mahasiswa dan alumni yang turut serta berinteraksi, dan menanyakan banyak hal baik dengan berkomentar ataupun via message. Dari media yang digunakan, seperti facebook fanpages, twitter, IG, dan Line. Twitter menduduki peringkat paling rendah dalam hal interaksi. Interaksi pun lebih banyak diperoleh melalui media Instagram.

Hal pertama yang terpikir waktu itu adalah membangun awareness di lingkungan mahasiswa dulu. Berlanjut kebelakang, ternyata problematika semakin banyak, seperti pertanyaan yang terkait akademik, pembayaran dan hal-hal tidak terduga lain yang tentunya bukan ranah pengelola social media untuk bisa menjawab. Problem lain adalah kecepatan informasi, misalkan informasi terkait akademik ternyata sudah muncul di papan pengumuman namun di social media belum.

Solusinya sebenarnya sederhana, sebuah wadah tempat semua informasi terkumpul. Namun hal yang terjadi di lapangan, sistem sudah ada, hanya berjalan beberapa saat saja. Setelah itu, kembali ke pola awal, semua punya kegiatan, semua distribusi sendiri. Jadi bisa dikatakan pengelola social media, bisa merangkap pencari berita.

Akhir kata, ada beberapa solusi lain, tapi… hm.. dipikir nanti saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *